
Keamanan website sering kali baru diperhatikan setelah terjadi masalah. Website diretas, muncul redirect ke situs asing, halaman berubah tanpa izin, atau bahkan website digunakan untuk menyebarkan malware dan konten spam.
Padahal, masalah keamanan tidak hanya berdampak pada aspek teknis. Website perusahaan yang tidak aman dapat menurunkan kepercayaan pelanggan, mengganggu operasional bisnis, menyebabkan kehilangan data, hingga merusak reputasi brand.
Website juga sering menjadi tempat masuknya data dari calon pelanggan melalui formulir kontak, pendaftaran, transaksi, atau berbagai integrasi dengan layanan pihak ketiga. Karena itu, melakukan cek keamanan website sebaiknya menjadi bagian dari maintenance rutin, bukan hanya dilakukan ketika masalah sudah terjadi.
Artikel ini akan membahas cara memeriksa keamanan website secara mandiri, standar keamanan yang perlu diperhatikan perusahaan, tanda-tanda website mulai bermasalah, serta langkah yang perlu dilakukan ketika terjadi insiden.
Kenapa Keamanan Website Penting untuk Perusahaan?
Website merupakan salah satu aset digital perusahaan. Ketika calon pelanggan ingin mengetahui bisnis Anda, website sering menjadi salah satu tempat pertama yang mereka kunjungi.
Bayangkan jika calon pelanggan membuka website perusahaan, tetapi browser menampilkan peringatan keamanan atau website justru mengarahkan pengunjung ke situs asing. Masalah seperti ini dapat langsung memengaruhi persepsi terhadap profesionalitas perusahaan.
Risiko keamanan website juga dapat memberikan dampak yang lebih luas, seperti kehilangan kepercayaan pelanggan, gangguan operasional, biaya pemulihan, hingga potensi kehilangan leads dan traffic.
Website yang terinfeksi malware juga dapat mengalami masalah pada visibilitas organik. Jika mesin pencari atau sistem keamanan mendeteksi aktivitas berbahaya, pengalaman pengguna dapat terganggu dan reputasi website berisiko menurun.
Karena itu, keamanan website bukan hanya tanggung jawab developer. Bagi perusahaan, keamanan merupakan bagian dari upaya menjaga aset digital dan kepercayaan pelanggan.
Cara Cek Keamanan Website Secara Step-by-Step
Pemeriksaan keamanan website dapat dimulai dengan beberapa langkah dasar. Namun, penting untuk memahami bahwa tidak ada satu tools yang dapat menjamin website 100% aman.
Scanner online biasanya hanya memeriksa website dari sisi eksternal. Artinya, tools tersebut mungkin dapat menemukan malware yang terlihat, redirect mencurigakan, atau indikasi blacklist, tetapi belum tentu mampu memeriksa seluruh file dan konfigurasi server.
Karena itu, hasil pemeriksaan sebaiknya digunakan sebagai indikator awal.
1. Cek SSL dan HTTPS Website
Langkah pertama dalam melakukan cek keamanan website adalah memastikan website menggunakan HTTPS.
Periksa apakah alamat website menggunakan:
https://
HTTPS membantu mengenkripsi komunikasi antara browser pengguna dan server. Hal ini penting terutama jika website menerima data melalui formulir, login, atau transaksi.
Selain memastikan HTTPS aktif, periksa juga apakah sertifikat SSL masih valid dan tidak muncul peringatan keamanan di browser.
Namun, penting untuk dipahami bahwa HTTPS bukan berarti website otomatis aman. Website tetap dapat memiliki malware, plugin rentan, atau konfigurasi server yang buruk meskipun SSL aktif.
SSL merupakan fondasi keamanan, tetapi bukan satu-satunya perlindungan.
2. Scan Website Menggunakan Security Scanner
Langkah berikutnya adalah melakukan scan menggunakan tools keamanan website.
Salah satu tools yang dapat digunakan adalah Sucuri SiteCheck. Tools ini dapat membantu melakukan pemeriksaan eksternal terhadap website untuk mencari indikasi malware, malicious code, blacklist, dan beberapa masalah keamanan lainnya.
Masukkan URL website ke dalam scanner, kemudian perhatikan apakah ditemukan indikasi malware, redirect mencurigakan, atau status blacklist.
Namun, hasil “bersih” bukan berarti website dijamin sepenuhnya aman. Scanner eksternal memiliki keterbatasan karena tidak memiliki akses langsung ke seluruh file, database, dan konfigurasi server.
Jika scanner menemukan masalah, pemeriksaan lebih mendalam tetap diperlukan.
3. Periksa Status Keamanan dan Indikasi Blacklist
Website yang terinfeksi malware dapat memiliki reputasi buruk pada sistem keamanan tertentu.
Jika website dicurigai mengalami masalah, periksa apakah:
- Browser menampilkan peringatan keamanan.
- Website muncul sebagai situs berbahaya.
- Scanner mendeteksi malware.
- Ada redirect ke domain yang tidak dikenal.
Jika ditemukan indikasi blacklist atau malware, jangan hanya fokus menghilangkan peringatan yang terlihat.
Sumber masalah perlu ditemukan.
Dalam beberapa kasus, malware dapat tersimpan di file website, database, plugin, theme, akun administrator, atau konfigurasi tertentu. Jika hanya gejalanya yang dihapus, masalah dapat muncul kembali.
4. Periksa CMS, Theme, dan Plugin
Website berbasis CMS seperti WordPress membutuhkan maintenance secara berkala.
Salah satu penyebab umum website menjadi rentan adalah penggunaan:
- WordPress versi lama.
- Plugin yang tidak diperbarui.
- Theme yang sudah usang.
- Plugin dari sumber tidak terpercaya.
- Plugin yang sudah tidak lagi dikembangkan.
Pembaruan software sering kali membawa perbaikan keamanan. Ketika sebuah kerentanan telah diketahui secara publik, website yang masih menggunakan versi lama dapat menjadi target yang lebih mudah.
Namun, update juga sebaiknya tidak dilakukan sembarangan, terutama pada website perusahaan yang memiliki banyak fungsi.
Sebelum melakukan update, sebaiknya cek keamanan website dengan buat backup terlebih dahulu. Setelah update, periksa kembali fungsi penting seperti formulir, halaman utama, login, dan integrasi lainnya.
Masalah keamanan WordPress juga tidak selalu berasal dari core WordPress. Plugin, theme, konfigurasi server, dan kredensial administrator juga dapat menjadi titik masuk.
Untuk pembahasan lebih lengkap, Anda dapat membaca artikel Akubi tentang penyebab WordPress sering kena hack dan solusinya.
5. Periksa Security Header Website
Security header merupakan konfigurasi yang dikirimkan server kepada browser untuk membantu meningkatkan perlindungan ketika website dibuka.
Beberapa security header yang sering digunakan antara lain:
- Content Security Policy (CSP) untuk membantu mengontrol sumber konten yang dapat dimuat.
- HSTS untuk membantu browser menggunakan HTTPS.
- X-Content-Type-Options untuk mengurangi risiko browser menebak jenis file secara tidak aman.
Pemilik website tidak harus memahami seluruh konfigurasi teknis secara mendalam. Namun, penting untuk mengetahui bahwa keamanan website tidak hanya bergantung pada antivirus atau plugin keamanan.
Konfigurasi server dan aplikasi juga memiliki peran penting.
Jika Anda ingin menambahkan security header, sebaiknya jangan langsung menggunakan konfigurasi dari internet tanpa memahami dampaknya. Konfigurasi yang salah dapat menyebabkan script, font, atau fitur website berhenti bekerja.
6. Periksa Akun Administrator dan Hak Akses
Keamanan website juga bergantung pada siapa saja yang memiliki akses.
Lakukan pemeriksaan terhadap akun administrator secara berkala. Pastikan tidak ada:
- Akun yang tidak dikenal.
- Akun mantan karyawan.
- Akun vendor lama yang sudah tidak digunakan.
- Password yang lemah.
- Satu akun administrator yang digunakan bersama-sama.
Setiap orang yang membutuhkan akses sebaiknya memiliki akun sendiri.
Selain itu, gunakan password yang kuat dan unik. Untuk akun administrator, penggunaan autentikasi dua faktor atau 2FA juga sangat disarankan.
Prinsipnya sederhana: tidak semua orang membutuhkan akses penuh.
Berikan akses sesuai kebutuhan masing-masing pengguna.
Standar Keamanan Website yang Perlu Dipenuhi Perusahaan
Keamanan website tidak dapat dibangun hanya dengan memasang satu plugin.
Pendekatan yang lebih baik adalah menggunakan keamanan berlapis. Untuk memahami risiko aplikasi web secara lebih luas, perusahaan juga dapat menjadikan panduan seperti OWASP Top 10 sebagai salah satu referensi dalam memahami kategori risiko keamanan website.
Berikut beberapa standar dasar yang sebaiknya diperhatikan.
1. SSL/TLS Aktif dan Valid
Website sebaiknya menggunakan HTTPS dan memiliki sertifikat yang valid.
Pastikan sertifikat tidak kedaluwarsa dan tidak terjadi masalah mixed content.
Namun, HTTPS tetap harus didukung oleh perlindungan lainnya.
2. Backup Dilakukan Secara Berkala
Backup merupakan bagian penting dari strategi pemulihan ketika terjadi masalah.
Website perusahaan sebaiknya memiliki jadwal backup sesuai tingkat aktivitasnya. Website yang sering mengalami perubahan mungkin membutuhkan backup lebih sering dibandingkan website company profile sederhana.
Hal yang tidak kalah penting adalah memastikan backup dapat digunakan.
Backup yang tidak pernah diuji belum tentu berhasil digunakan ketika terjadi masalah.
Idealnya, backup disimpan di lokasi yang terpisah dari server utama.
3. CMS dan Plugin Selalu Diperbarui
Core CMS, plugin, theme, dan software pendukung perlu diperiksa secara berkala.
Namun, update sebaiknya dilakukan dengan proses yang terkontrol:
- Backup terlebih dahulu.
- Lakukan update.
- Periksa fungsi website.
- Pastikan tidak ada error atau konflik.
Maintenance rutin jauh lebih baik dibandingkan menunggu masalah keamanan muncul.
4. Menggunakan Firewall atau WAF
Web Application Firewall atau WAF dapat menjadi lapisan perlindungan tambahan terhadap pola serangan tertentu.
WAF bukan pengganti update atau secure coding. Namun, WAF dapat membantu menyaring traffic dan memblokir aktivitas mencurigakan sebelum mencapai aplikasi utama.
Keamanan terbaik biasanya berasal dari beberapa lapisan perlindungan yang bekerja bersama.
5. Password Kuat dan 2FA
Akun administrator harus memiliki perlindungan yang lebih ketat.
Gunakan password yang unik dan kuat. Hindari menggunakan password yang sama dengan akun lain.
Autentikasi dua faktor juga dapat membantu menambah perlindungan ketika password berhasil diketahui pihak lain.
6. Monitoring Website Secara Berkala
Website yang tidak dipantau dapat mengalami masalah tanpa diketahui selama berhari-hari.
Monitoring dapat membantu mendeteksi:
- Website down.
- Error tertentu.
- Perubahan tidak biasa.
- Aktivitas mencurigakan.
- Masalah performa.
Maintenance dan monitoring juga menjadi bagian penting dari pengelolaan website setelah proses pengembangan selesai. Hal ini dibahas lebih lanjut dalam artikel Akubi tentang pentingnya website support untuk kelangsungan bisnis online.
Tanda-Tanda Website Mungkin Sudah Tidak Aman
Tidak semua serangan langsung terlihat. Namun, beberapa tanda berikut perlu diperiksa.
Muncul Peringatan “Not Secure”
Peringatan dari browser dapat menunjukkan masalah pada HTTPS atau sertifikat SSL.
Periksa apakah sertifikat sudah kedaluwarsa atau terdapat konfigurasi yang salah.
Website Redirect ke Situs Asing
Redirect otomatis ke website yang tidak dikenal merupakan tanda serius.
Penyebabnya dapat berasal dari malware, script berbahaya, plugin yang disusupi, atau konfigurasi server yang telah diubah. Masalah seperti ini tidak cukup diselesaikan dengan menghapus redirect. Sumber infeksi perlu ditemukan. cek keamanan website Anda secara berkala.
Muncul Halaman atau Konten yang Tidak Pernah Dibuat
Jika Anda menemukan artikel spam, halaman asing, atau konten yang tidak pernah dipublikasikan, lakukan pemeriksaan segera.
Periksa file, database, akun administrator, plugin, theme, dan konfigurasi lainnya.
Masalah SEO spam dan malware juga pernah dibahas dalam artikel Akubi mengenai WordPress yang terkena malware judi dan cara mengatasinya.
Traffic Organik Turun Secara Tidak Wajar
Penurunan traffic tidak selalu berarti website diretas.
Namun, jika penurunan traffic terjadi bersamaan dengan munculnya halaman asing, redirect, atau peringatan keamanan, maka masalah keamanan perlu menjadi salah satu hal yang diperiksa.
Gunakan data dari Google Search Console dan analytics untuk melihat apakah terdapat perubahan yang tidak biasa.
Apa yang Harus Dilakukan Jika Website Mengalami Masalah Keamanan?
Jika website ditemukan memiliki malware atau indikasi akses tidak sah, jangan langsung menghapus file secara acak.
Tindakan yang terlalu terburu-buru dapat menghapus bukti, merusak website, atau bahkan membuat masalah sulit ditemukan.
1. Batasi Risiko
Jika website secara aktif mengarahkan pengunjung ke situs berbahaya atau menyebarkan malware, tindakan cepat mungkin diperlukan untuk mengurangi dampak.
Tingkat tindakan tergantung tingkat keparahan masalah.
2. Identifikasi Sumber Masalah
Pemeriksaan sebaiknya mencakup:
- File website.
- Database.
- Plugin dan theme.
- Akun administrator.
- Konfigurasi server.
Tujuannya bukan hanya menemukan malware, tetapi juga mengetahui bagaimana celah tersebut dapat terjadi.
Jika sumber masalah tidak ditutup, infeksi dapat muncul kembali.
3. Bersihkan Malware dan Tutup Celah
Setelah sumber masalah ditemukan, langkah pemulihan dapat mencakup penghapusan file berbahaya, penggantian password, penghapusan akun tidak dikenal, update software, dan perbaikan konfigurasi.
Jika menggunakan backup, pastikan backup berasal dari kondisi sebelum website terinfeksi.
4. Lakukan Pemeriksaan Ulang
Setelah pembersihan selesai, lakukan scan kembali.
Pastikan website tidak lagi:
- Redirect ke situs asing.
- Memiliki file mencurigakan.
- Memiliki akun administrator tidak dikenal.
- Menampilkan konten spam.
- Mengalami masalah keamanan yang sama.
Kapan Harus Menggunakan Bantuan Profesional?
Masalah sederhana seperti SSL kedaluwarsa atau plugin yang belum diperbarui mungkin masih dapat ditangani sendiri oleh administrator website yang memahami sistem.
Namun, bantuan profesional sebaiknya dipertimbangkan jika:
- Website terinfeksi malware.
- Terjadi akses administrator tanpa izin.
- Website redirect ke situs asing.
- Masalah terus muncul kembali.
- Website memiliki sistem kompleks.
- Ada kemungkinan data pelanggan terdampak.
Dalam kondisi seperti ini, proses investigasi yang sistematis lebih aman dibandingkan mencoba menghapus file secara manual tanpa mengetahui sumber masalah.
Seberapa Sering Harus Cek Keamanan Website?
Tidak ada jadwal yang sama untuk setiap website.
Website company profile sederhana tentu memiliki kebutuhan berbeda dibandingkan e-commerce atau aplikasi yang memproses data pelanggan.
Namun, secara umum, perusahaan sebaiknya membagi pemeriksaan menjadi beberapa tingkat:
Monitoring rutin: memantau uptime dan aktivitas tidak biasa.
Maintenance berkala: memeriksa update CMS, plugin, theme, dan sistem.
Audit berkala: melakukan pemeriksaan keamanan yang lebih menyeluruh berdasarkan tingkat risiko website.
Keamanan bukan proses satu kali.
Website yang aman hari ini tetap dapat memiliki risiko di masa depan karena software, ancaman, dan teknologi terus berubah.
Kesimpulan
Melakukan cek keamanan website merupakan bagian penting dari menjaga aset digital perusahaan.
Pemeriksaan dapat dimulai dari memastikan HTTPS aktif, melakukan scan malware, memeriksa status keamanan, mengevaluasi CMS dan plugin, mengelola akun administrator, hingga memastikan website memiliki backup dan sistem monitoring.
Namun, keamanan website tidak dapat dijamin hanya dengan satu tools atau satu kali pemeriksaan.
Pendekatan yang lebih efektif adalah membangun keamanan secara berlapis melalui update berkala, backup, pengelolaan akses, firewall, monitoring, dan audit.
Yang paling penting, jangan menunggu website diretas terlebih dahulu untuk mulai melakukan pemeriksaan.
Dengan maintenance dan audit keamanan secara berkala, perusahaan dapat menemukan risiko lebih awal, mengurangi potensi kerugian, menjaga kepercayaan pelanggan, dan melindungi aset digital dalam jangka panjang.
Butuh Website Perusahaan yang Lebih Aman dan Terkelola?
Website perusahaan tidak hanya perlu terlihat profesional. Website juga perlu dibangun dengan struktur yang baik, mudah dikembangkan, dan dikelola secara berkelanjutan.
Jika bisnis Anda membutuhkan website perusahaan profesional yang dirancang sesuai kebutuhan bisnis:
Jasa Pembuatan Website Perusahaan Akubi
Bangun Aset Digital Bisnis Bersama Akubi
Website merupakan aset digital yang perlu dibangun dan dikembangkan secara berkelanjutan. Akubi membantu bisnis membangun website profesional dengan perhatian pada desain, performa, pengalaman pengguna, dan kebutuhan pertumbuhan bisnis.
Untuk mengetahui layanan Akubi lebih lanjut:
