
Website bisnis tidak cukup hanya terlihat modern dan profesional. Di balik desain yang menarik, ada satu hal yang sering menentukan apakah pengunjung akan melanjutkan perjalanan atau justru meninggalkan website, yaitu pengalaman pengguna atau User Experience (UX).
UX website bisnis berkaitan dengan bagaimana seseorang merasakan dan berinteraksi dengan website sejak pertama kali datang hingga melakukan tindakan tertentu. Pengalaman tersebut mencakup banyak hal, mulai dari kemudahan menemukan informasi, kejelasan navigasi, kecepatan halaman, keterbacaan konten, hingga seberapa mudah pengunjung menghubungi perusahaan.
Bayangkan seseorang sedang mencari jasa dari sebuah perusahaan. Ia menemukan website melalui Google, kemudian membuka halaman utama. Jika dalam beberapa detik ia tidak memahami perusahaan tersebut bergerak di bidang apa, harus mengklik terlalu banyak menu untuk menemukan layanan, atau kesulitan menemukan tombol kontak, kemungkinan besar ia akan kembali ke hasil pencarian dan memilih kompetitor.
Inilah mengapa UX tidak seharusnya dianggap hanya sebagai urusan desainer. Untuk website bisnis, UX memiliki hubungan langsung dengan kepercayaan, engagement, dan peluang konversi.
Apa Itu UX Website Bisnis?
UX website bisnis adalah keseluruhan pengalaman yang dirasakan pengguna ketika berinteraksi dengan website sebuah perusahaan untuk mencapai tujuan tertentu.
Tujuan tersebut bisa berbeda-beda, misalnya:
- Mencari informasi tentang perusahaan.
- Melihat layanan.
- Membandingkan solusi.
- Melihat portofolio.
- Membaca studi kasus.
- Menghubungi sales.
- Mengirim formulir.
- Melakukan pembelian.
UX yang baik membuat proses tersebut terasa sederhana dan logis.
Sebaliknya, UX yang buruk membuat pengguna harus berpikir terlalu banyak untuk mendapatkan informasi yang sebenarnya sederhana.
Jadi, pertanyaan utama dalam merancang UX bukanlah “Apakah website ini terlihat bagus?”, melainkan:
“Apakah pengunjung dapat mencapai tujuannya dengan mudah?”
Prinsip tersebut sejalan dengan pendekatan usability yang banyak digunakan dalam desain produk digital. Nielsen Norman Group, misalnya, menempatkan kemudahan penggunaan dan kesesuaian dengan kebutuhan pengguna sebagai bagian penting dari usability.
Mengapa UX Berpengaruh terhadap Konversi?
Konversi terjadi ketika pengunjung melakukan tindakan yang memiliki nilai bagi bisnis.
Contohnya:
- Mengklik tombol WhatsApp.
- Mengisi formulir konsultasi.
- Meminta penawaran.
- Mendaftar.
- Menelepon perusahaan.
- Membeli produk.
Masalahnya, pengunjung tidak akan melakukan tindakan tersebut jika perjalanan menuju konversi terasa sulit.
Misalnya, sebuah perusahaan ingin mendapatkan leads dari website. Tombol konsultasi sebenarnya tersedia, tetapi letaknya berada jauh di bawah halaman dan tidak memiliki teks yang jelas.
Secara teknis CTA tersebut memang ada.
Namun dari perspektif UX, pengguna mungkin tidak pernah menemukannya.
Karena itu, desain UX harus membantu menghilangkan hambatan antara niat pengunjung dan tindakan yang ingin dilakukan bisnis.
Google sendiri menyarankan pemilik website untuk memprioritaskan pengalaman pengguna secara keseluruhan, termasuk performa halaman dan kemudahan penggunaan di perangkat mobile.
1. Mulai dari Memahami Pengguna
Kesalahan paling umum dalam membuat UX adalah memulai dari desain.
Desainer langsung menentukan warna, font, animasi, dan layout sebelum memahami siapa yang akan menggunakan website.
Padahal, UX seharusnya dimulai dari pengguna.
Sebelum membuat desain, tentukan:
- Siapa target pengunjung?
- Apa masalah mereka?
- Informasi apa yang mereka cari?
- Apa yang membuat mereka ragu?
- Apa tindakan yang ingin mereka lakukan?
- Apa yang dapat membuat mereka percaya?
Misalnya target website adalah perusahaan yang mencari vendor website.
Mereka mungkin ingin mengetahui:
- Apakah vendor tersebut profesional?
- Berapa pengalaman mereka?
- Apa saja proyek sebelumnya?
- Teknologi apa yang digunakan?
- Bagaimana proses pengerjaannya?
- Berapa estimasi biaya?
- Bagaimana cara berkonsultasi?
Informasi tersebut kemudian menjadi dasar dalam menyusun UX.
2. Buat User Flow yang Sederhana
Setelah memahami pengguna, susun user flow.
User flow adalah jalur yang kemungkinan dilalui pengguna untuk mencapai tujuan tertentu.
Contohnya:
Google → Artikel → Halaman Layanan → Portofolio → Konsultasi
Atau:
Homepage → Layanan → Studi Kasus → Kontak
Tujuannya bukan membuat semua orang mengikuti jalur yang sama, tetapi memastikan setiap jalur memiliki arah yang jelas.
Jika pengunjung datang dari artikel blog, misalnya, jangan biarkan mereka berhenti setelah membaca artikel. Berikan rekomendasi artikel terkait atau arahkan ke layanan yang relevan.
Dengan begitu, website berubah dari sekadar kumpulan halaman menjadi sebuah perjalanan yang terstruktur.
3. Buat Navigasi yang Mudah Dipahami
Navigasi adalah salah satu elemen terpenting dalam UX.
Pengunjung seharusnya dapat memahami isi website hanya dengan melihat menu utama.
Untuk website perusahaan, struktur sederhana seperti berikut biasanya sudah cukup:
- Beranda
- Tentang Kami
- Layanan
- Portofolio
- Blog
- Kontak
Tidak semua website harus menggunakan susunan yang sama. Struktur terbaik tetap bergantung pada kebutuhan bisnis.
Yang harus dihindari adalah membuat pengunjung menghadapi terlalu banyak pilihan sekaligus.
Terlalu banyak pilihan dapat meningkatkan beban kognitif dan membuat proses pengambilan keputusan menjadi lebih sulit. Penelitian Nielsen Norman Group juga membahas bagaimana terlalu banyak pilihan dapat membuat pengguna kewalahan dalam mengambil keputusan.
4. Gunakan Hierarki Visual yang Jelas
Website bukan dokumen Word yang dibaca dari atas ke bawah secara linear.
Pengunjung biasanya melakukan scanning untuk mencari informasi yang paling relevan.
Karena itu, desain harus memiliki hierarki visual yang jelas.
Gunakan perbedaan ukuran dan bobot pada:
- Heading.
- Subheading.
- Paragraf.
- Tombol.
- Informasi penting.
Informasi yang paling penting harus terlihat paling menonjol.
Misalnya pada hero section:
Headline
Website Company Profile Profesional untuk Membangun Kepercayaan dan Mendapatkan Leads
Deskripsi
Solusi website yang dirancang sesuai kebutuhan bisnis Anda, bukan sekadar menggunakan template.
CTA
Konsultasikan Website Anda
Dengan hierarki seperti itu, pengunjung dapat memahami pesan utama tanpa harus membaca seluruh halaman.
Penelitian tentang perilaku membaca di web juga menunjukkan bahwa pengguna cenderung melakukan scanning. Karena itu, heading, bullet point, penekanan visual, dan struktur konten membantu pengguna menemukan informasi penting dengan lebih cepat.
5. Jangan Membuat Pengunjung Berpikir Terlalu Banyak
UX yang baik membuat keputusan terasa sederhana.
Misalnya Anda ingin pengunjung menghubungi perusahaan.
Jangan memberikan lima pilihan CTA dengan tujuan yang hampir sama:
- Hubungi Kami
- Kontak
- Konsultasi
- Tanya Sekarang
- Request Information
Pengunjung justru bisa bingung.
Lebih baik tentukan satu tindakan utama.
Contohnya:
Konsultasikan Kebutuhan Website Anda
Kemudian berikan tindakan sekunder jika memang diperlukan.
Prinsipnya sederhana: semakin jelas pilihan yang diberikan, semakin mudah pengguna menentukan langkah berikutnya.
6. Buat CTA yang Terlihat dan Kontekstual
CTA bukan sekadar tombol berwarna mencolok.
Lokasi dan konteksnya juga penting.
Misalnya setelah menjelaskan layanan, CTA yang relevan adalah:
Diskusikan Kebutuhan Anda
Setelah menampilkan portofolio:
Lihat Bagaimana Kami Bisa Membantu
Setelah menjelaskan harga:
Minta Penawaran
CTA harus sesuai dengan konteks informasi yang baru saja dibaca pengguna. CTA yang tepat dapat membantu mengarahkan pengunjung menuju tindakan yang diinginkan tanpa membuat pengalaman mereka terasa dipaksakan.
Dengan demikian, CTA terasa sebagai bagian alami dari perjalanan pengguna, bukan iklan yang dipaksakan.
7. Perhatikan Kecepatan Website
Website dengan UX yang baik tidak boleh hanya nyaman secara visual. Performa juga harus diperhatikan.
Pengunjung tidak ingin menunggu terlalu lama hanya untuk melihat sebuah halaman.
Masalah yang sering menyebabkan website lambat antara lain:
- Gambar terlalu besar.
- Terlalu banyak plugin.
- JavaScript berlebihan.
- Hosting kurang optimal.
- Animasi tidak diperlukan.
- File CSS dan JavaScript tidak dioptimalkan.
Google menyediakan Core Web Vitals dan PageSpeed Insights sebagai bagian dari alat untuk mengevaluasi performa halaman.
Kecepatan bukan berarti semua elemen harus dihilangkan. Prinsipnya adalah mempertahankan elemen yang memberikan nilai bagi pengguna dan mengurangi elemen yang hanya menambah beban.
8. Prioritaskan Pengalaman Mobile
UX website bisnis juga harus dirancang untuk smartphone.
Jangan menganggap desain desktop yang diperkecil otomatis menjadi desain mobile yang baik.
Pada layar kecil, beberapa elemen perlu disusun ulang.
Perhatikan:
- Ukuran teks.
- Jarak antar tombol.
- Ukuran area klik.
- Navigasi mobile.
- Ukuran gambar.
- Urutan konten.
- Posisi CTA.
Google juga menekankan pentingnya website yang mobile-friendly karena perangkat mobile menjadi bagian besar dari aktivitas internet global.
9. Gunakan Copywriting yang Mudah Dipindai
UX dan copywriting tidak dapat dipisahkan.
Desain yang bagus tidak akan banyak membantu apabila seluruh halaman dipenuhi paragraf panjang tanpa struktur.
Gunakan:
- Kalimat pendek.
- Subheading.
- Bullet point.
- Highlight.
- Angka atau statistik.
- Paragraf yang tidak terlalu panjang.
Tujuannya bukan membuat konten menjadi dangkal, tetapi membuat informasi yang kompleks lebih mudah dicerna.
Pengunjung dapat melakukan scanning terlebih dahulu dan membaca bagian yang paling relevan bagi mereka.
10. Bangun Trust Sebelum Meminta Konversi
Jangan terlalu cepat meminta pengunjung membeli atau menghubungi Anda sebelum mereka memahami siapa Anda.
Website bisnis perlu membangun trust secara bertahap.
Elemen yang dapat digunakan antara lain:
- Testimoni.
- Portofolio.
- Studi kasus.
- Logo klien.
- Sertifikasi.
- Profil tim.
- Alamat dan informasi perusahaan.
- Jaminan atau kebijakan layanan yang relevan.
Misalnya setelah menjelaskan layanan, tampilkan beberapa proyek yang pernah dikerjakan.
Setelah itu, tampilkan testimoni.
Barulah arahkan pengunjung menuju CTA.
Alurnya menjadi:
Informasi → Bukti → Kepercayaan → Tindakan
Inilah salah satu pola UX yang dapat membantu meningkatkan peluang konversi.
11. Hubungkan UX dengan Struktur Website
UX tidak berdiri sendiri.
Ia harus berjalan bersama arsitektur website.
Misalnya struktur:
Homepage → Layanan → Portofolio → Studi Kasus → Kontak
memungkinkan pengunjung bergerak dari tahap mengenal perusahaan menuju tahap mengambil keputusan.
Sementara itu, artikel blog dapat menjadi pintu masuk dari Google:
Google → Artikel → Artikel Terkait → Layanan → Konsultasi
Karena itu, struktur website yang baik perlu dirancang bersama user flow.
Jika ingin memahami bagaimana arsitektur halaman dapat mendukung konversi, Anda juga dapat membaca pembahasan tentang struktur website bisnis yang efektif di Akubi.
[Internal link: Struktur Website Bisnis]
12. Jangan Mengorbankan UX demi Tren Desain
Tren desain website terus berubah.
Glassmorphism, animasi, parallax, video background, cursor animation, dan berbagai efek visual lainnya memang dapat membuat website terlihat menarik.
Namun, tidak semuanya cocok untuk setiap bisnis.
Sebuah website perusahaan B2B, misalnya, mungkin lebih membutuhkan:
- Informasi yang jelas.
- Navigasi sederhana.
- Portofolio.
- Studi kasus.
- CTA.
- Kecepatan.
daripada puluhan animasi.
Desain yang bagus bukan desain yang memiliki efek paling banyak.
Desain yang bagus adalah desain yang membantu pengguna mencapai tujuan dengan lebih mudah.
Cara Menguji UX Website Bisnis
Jangan hanya bertanya kepada tim internal apakah website sudah bagus.
Lakukan pengujian dari sudut pandang pengguna.
Coba berikan beberapa tugas kepada orang yang belum terlalu mengenal website Anda.
Misalnya:
“Anda sedang mencari jasa pembuatan website perusahaan. Coba temukan layanan yang paling sesuai dan cari tahu bagaimana cara menghubungi perusahaan ini.”
Kemudian amati:
- Apakah mereka langsung memahami homepage?
- Apakah mereka menemukan menu layanan?
- Berapa lama mereka menemukan CTA?
- Apakah mereka menemukan portofolio?
- Apakah mereka kebingungan?
- Apakah mereka berhasil menyelesaikan tugas?
Cara sederhana ini dapat menemukan masalah UX yang sering tidak disadari oleh pemilik website.
UX juga dapat dievaluasi secara sistematis menggunakan heuristic evaluation, salah satu pendekatan usability yang dikenal luas dalam bidang UX.
Kesalahan UX yang Sering Menurunkan Konversi
Setelah memahami prinsip dasar UX, langkah berikutnya adalah melihat kesalahan yang sering terjadi pada website bisnis. Kesalahan kecil pada satu bagian mungkin terlihat sepele, tetapi jika terjadi di banyak titik, pengalaman pengguna secara keseluruhan dapat menurun.
1. CTA Tidak Konsisten
Bayangkan halaman pertama menggunakan tombol “Konsultasi Sekarang”, halaman berikutnya menggunakan “Hubungi Kami”, kemudian halaman lain menggunakan “Request Demo”.
Meskipun semua tombol memiliki tujuan yang sama, variasi yang terlalu banyak dapat membuat pengalaman terasa tidak konsisten.
Gunakan beberapa variasi CTA hanya jika konteksnya memang berbeda. Untuk tindakan utama, pertahankan istilah yang konsisten sehingga pengguna mudah mengenalinya.
2. Formulir Terlalu Panjang
Formulir merupakan salah satu titik penting dalam perjalanan konversi.
Kesalahan yang sering dilakukan adalah meminta terlalu banyak informasi sejak awal.
Misalnya, untuk konsultasi awal perusahaan hanya membutuhkan nama, nomor WhatsApp, dan kebutuhan website. Namun formulir justru meminta:
- Nama lengkap.
- Jabatan.
- Nama perusahaan.
- Alamat perusahaan.
- Email.
- Nomor telepon.
- Jumlah karyawan.
- Omzet.
- Anggaran.
- Industri.
- Alamat lengkap.
- Pesan panjang.
Semakin banyak kolom yang harus diisi, semakin besar hambatan untuk menyelesaikan formulir.
Jika informasi tambahan belum diperlukan pada tahap awal, jangan memaksakan semuanya dalam satu formulir.
3. Pop-up Muncul Terlalu Cepat
Pop-up dapat berguna untuk menawarkan sesuatu kepada pengunjung. Namun, jika muncul sebelum pengunjung sempat memahami isi website, pengalaman pengguna dapat terganggu.
Contohnya, seseorang baru membuka artikel selama dua detik kemudian langsung mendapatkan pop-up yang meminta nomor WhatsApp.
Bukannya melakukan konversi, pengunjung justru mungkin menutup halaman.
Gunakan pop-up berdasarkan konteks dan waktu yang tepat.
4. Terlalu Banyak Animasi
Animasi seharusnya membantu pengguna memahami perubahan atau hierarki informasi, bukan menjadi tujuan utama desain.
Jika setiap elemen bergerak ketika halaman dibuka, pengguna dapat kehilangan fokus.
Pada website bisnis, gunakan animasi secara selektif pada bagian yang memang membutuhkan penekanan.
5. Informasi Kontak Sulit Ditemukan
Ini merupakan kesalahan yang cukup fatal pada website perusahaan.
Pengunjung yang sudah siap menghubungi perusahaan seharusnya tidak perlu mencari-cari nomor telepon atau alamat email.
Pastikan informasi kontak dapat ditemukan melalui:
- Menu utama.
- Footer.
- Halaman kontak.
- CTA pada halaman layanan.
Untuk bisnis yang mengandalkan WhatsApp, tombol komunikasi juga harus mudah ditemukan terutama pada perangkat mobile.
Checklist Audit UX Website Bisnis
Mas Ahid dapat menggunakan checklist sederhana berikut ketika melakukan audit website.
Navigasi
- Apakah menu mudah dipahami?
- Apakah pengunjung tahu posisi mereka?
- Apakah halaman penting mudah ditemukan?
- Apakah struktur menu terlalu kompleks?
Konten
- Apakah headline menjelaskan manfaat?
- Apakah informasi mudah dipindai?
- Apakah paragraf terlalu panjang?
- Apakah informasi penting terlihat jelas?
Konversi
- Apakah CTA mudah ditemukan?
- Apakah CTA sesuai dengan konteks?
- Apakah formulir terlalu panjang?
- Apakah proses menghubungi perusahaan sederhana?
Mobile
- Apakah teks mudah dibaca?
- Apakah tombol cukup besar untuk disentuh?
- Apakah menu mobile mudah digunakan?
- Apakah CTA tetap mudah ditemukan?
Performa
- Apakah halaman cepat dimuat?
- Apakah gambar sudah dioptimalkan?
- Apakah terdapat elemen yang tidak diperlukan?
- Apakah website memiliki masalah performa pada perangkat mobile?
Checklist ini dapat membantu menemukan masalah UX tanpa harus langsung melakukan redesign seluruh website.
Contoh Alur UX Website Bisnis yang Ideal
Mari kita lihat contoh sederhana sebuah perusahaan yang menjual jasa kepada bisnis lain.
Pengunjung pertama kali menemukan artikel perusahaan melalui Google.
Tahap 1: Awareness
Pengunjung membaca artikel yang menjawab masalahnya.
Pada akhir artikel, terdapat rekomendasi konten yang masih relevan.
Tahap 2: Exploration
Pengunjung membuka halaman layanan untuk mengetahui solusi yang ditawarkan.
Di sini mereka mendapatkan:
- Penjelasan layanan.
- Manfaat.
- Proses kerja.
- Portofolio.
Tahap 3: Trust
Pengunjung melihat studi kasus dan testimoni klien.
Keraguan mulai berkurang karena mereka mendapatkan bukti.
Tahap 4: Decision
Pengunjung menemukan CTA yang relevan:
Konsultasikan Kebutuhan Bisnis Anda
Mereka kemudian membuka halaman kontak atau WhatsApp.
Tahap 5: Conversion
Formulir dibuat sederhana dan proses komunikasi mudah dilakukan.
Alur tersebut dapat digambarkan sebagai:
Traffic → Informasi → Eksplorasi → Trust → Decision → Conversion
Inilah yang seharusnya menjadi salah satu tujuan utama dalam merancang UX website bisnis.
UX Bukan Sekadar Membuat Website “Nyaman”
Istilah UX sering disalahartikan hanya sebagai membuat website nyaman digunakan.
Padahal dalam konteks bisnis, UX memiliki tujuan yang lebih luas.
Website harus membantu pengguna sekaligus membantu perusahaan mencapai tujuan bisnis.
Misalnya:
Tujuan pengguna: menemukan vendor website yang dapat dipercaya.
Tujuan bisnis: mendapatkan leads dari calon klien tersebut.
UX menjadi penghubung antara keduanya.
Jika website hanya mengejar konversi tanpa memperhatikan pengguna, pengunjung bisa merasa dipaksa.
Sebaliknya, jika website hanya mengejar kenyamanan tetapi tidak memiliki arah konversi, website mungkin menyenangkan untuk dikunjungi tetapi tidak menghasilkan leads.
UX yang baik mencari titik keseimbangan antara kebutuhan pengguna dan tujuan bisnis.
Hubungkan UX dengan Strategi Conversion
Setelah UX diperbaiki, jangan berhenti pada tampilan.
Ukur apakah perubahan tersebut benar-benar memberikan dampak.
Beberapa indikator yang dapat diperhatikan antara lain:
- Engagement rate.
- Jumlah klik CTA.
- Form submission.
- Klik WhatsApp.
- Waktu engagement.
- Jumlah halaman yang dikunjungi.
- Conversion rate.
Sebagai contoh, Anda mengubah posisi CTA pada homepage.
Jangan hanya menilai desainnya terlihat lebih bagus. Bandingkan data sebelum dan sesudah perubahan.
Jika jumlah klik meningkat, perubahan tersebut memiliki indikasi positif.
Pendekatan seperti ini membuat pengembangan UX menjadi proses berkelanjutan, bukan pekerjaan satu kali.
Kapan Website Bisnis Perlu Diperbaiki UX-nya?
Tidak harus menunggu website benar-benar rusak.
Beberapa tanda bahwa UX sudah perlu dievaluasi antara lain:
- Banyak pengunjung tetapi sedikit leads.
- Pengunjung sering keluar dari halaman penting.
- Banyak pengguna tidak sampai ke halaman layanan.
- CTA jarang diklik.
- Formulir jarang diselesaikan.
- Pengunjung sering bertanya informasi yang sebenarnya sudah tersedia.
- Website sulit digunakan melalui smartphone.
- Website terasa lambat.
- Struktur halaman semakin kompleks setelah banyak konten ditambahkan.
Jika beberapa kondisi tersebut terjadi sekaligus, audit UX layak dilakukan.
UX dan Website Profesional Harus Berjalan Bersama
Website bisnis yang profesional bukan hanya terlihat mahal.
Ia harus mampu memberikan pengalaman yang membuat calon pelanggan merasa:
“Saya tahu perusahaan ini siapa, saya paham apa yang mereka tawarkan, saya percaya dengan kemampuan mereka, dan saya tahu harus menghubungi siapa.”
Jika empat hal tersebut dapat dicapai dengan mudah, UX website sudah menjalankan fungsi pentingnya.
Karena itu, ketika merancang atau melakukan redesign website, jangan hanya meminta desain yang “bagus”. Pastikan struktur informasi, navigasi, copywriting, CTA, performa, dan mobile experience juga dirancang sebagai satu kesatuan.
Bagi perusahaan yang membutuhkan website dengan pendekatan tersebut, layanan pembuatan website perusahaan dapat menjadi solusi ketika struktur, desain, UX, dan kebutuhan bisnis perlu dirancang secara terpadu:
Kesimpulan
UX website bisnis bukan sekadar persoalan membuat tampilan website terlihat menarik. UX merupakan proses merancang pengalaman agar pengunjung dapat menemukan informasi, memahami nilai perusahaan, membangun kepercayaan, dan melakukan tindakan dengan mudah.
Untuk menghasilkan konversi, mulailah dengan memahami target pengguna. Setelah itu, susun user flow yang sederhana, buat navigasi yang jelas, gunakan hierarki visual yang baik, optimalkan CTA, sederhanakan formulir, prioritaskan mobile experience, dan pastikan website memiliki performa yang baik.
Jangan lupa mengukur hasilnya menggunakan data. UX yang baik bukan sesuatu yang dibuat berdasarkan asumsi, tetapi dapat terus diuji dan diperbaiki berdasarkan perilaku pengguna.
Pada akhirnya, website yang efektif bukan website yang membuat pengunjung bertahan selama mungkin tanpa tujuan. Website yang efektif adalah website yang membantu pengunjung mencapai kebutuhannya sekaligus mengarahkan mereka menuju tindakan yang bernilai bagi bisnis.
Jika Anda ingin mempelajari lebih banyak strategi mengenai website, SEO, UX, dan konversi, Anda dapat menemukan berbagai pembahasan lainnya di pusat informasi Akubi.
Dengan perencanaan UX yang tepat, website dapat berkembang dari sekadar profil perusahaan menjadi salah satu aset digital yang membantu membangun kredibilitas dan menghasilkan peluang bisnis.